"hahaha, aku lebih menyayangimu kaito"
"kalau begitu jika besar nanti aku mau menikah sama nee-san"
"mana bisa begitu kaito... hahaha"
hari ini hari kematian ibu nee-san, tapi jika melihat wajah nee-san tidak nampak sama sekali kesedihan sedikitpun. walau juga tidak nampak senyum di sana, namun setiap kali kutanyakan apa dia baik-baik saja iya hanya tersenyum simpul kepada ku
"meiko-chan kamu benar-benar tidak apa degan...", diapun menyanggah kata-kata ibuku
"tidak apa-apa ma, kan sekarang aku sudah punya mama sebagai mama baruku. aku yakin dia senang aku diterima di keluarga papa, dan aku yakin mama akan lebih menyayangiku lebih dari mama lamaku", senyumnya
dengan tubuh bergetar, tak kuasa ibuku menahan air mata yang dibendungnya dari tadi. padahal anak yang berada di depanya adalah anak cinta pertama ayahku yang ternyata adalah sahabat lama ibuku
"pasti meiko, pasti aku akan memperlakukanmu seperti anaku", katanya sembari memeluk nee-san.
nee-san pun mengarahkan pandangan matanya padaku yang baru dia kenal satu hari ini
"kaito, adiku..", ulur tanganya kepadaku
entah terbawa suasana atau apa, aku ikut larut dalam keharuan yang mereka alami. kupeluk tubuh ibuku dari belakang sambil menagis.
sembari memakan eskrim itu aku hanya duduk terdiam di sana bersama nee-san
"apa enak ?", tanyanya sembari mendekat padaku
"iya", jawabku pelan
"awalnya aku khawatir kau akan membenciku kaito"
"eh ?!, kenapa harus benci", heranku
"karena aku adalah anak dari sahabat ibumu", katanya risau
"ibu senang dengan kedatangan nee-san kok, kalau ibu senag aku juga akan senag. lagipula nee-san kan orang baik", kataku berbinar
"terima kasih kaito", katanya sambil menyeka sedikit air matanya
"aku akan jadi kuat !!!", kataku lantang
"eh..?, kenapa ?", heranya
"aku akan jadi kuat agar bisa melindungi nee-san, agar nee-san tidak bersedih lagi. aku akan menjadi super hero untuk nee-san", kataku sambil berdiri
suasana menjadi hening seketika
"eh..ti..tidak bisa ya ?"
"huf..... HAHAHAHA, harusnya itu kalimatku kan", tawanya lepas
pada saat itu baru kusadari betapa cantiknya senyum nee-san.
hari ini aku akan pergi bersama-sama ke rumah nenek yang berada di kota sebelah, aku selalu menantikan saat-saat berkunjung ke rumah nenek. disana ada ponon besar dimana aku biasa melihat matahari terbendam yang sangat indah
"ma, aku ingin bermain di pohon besar bersama nee-san ya ma", kataku berseri-seri
"sejak kapan kau jadi ikutan memanggil mama ?", kata nee-san jahil
"memangnya hanya nee-san yang boleh !!!", gerutuku
"sudah-sudah dipanggil apapun mama tidak keberatan kok", katanya sembari tertawa
"ma..ma..m...ma..ma", kata kaiko kecil terbata-bata
"ah, iya kaiko ini mama", katanya terkesima
"jadi sekarang panggilanya papa mama ya", canda papa dari kursi pengemudi
"kalau kau cukup panggil nama saja kan", kata mama dingin
"huh.... padahal aku juga mau manggil mama", kata papa lesu
"eh ?! kenapa jadi murung.....becanda kok maaf maaf, hahaha" tawanya
"oke sekarang jadinya papa mama kan", kata papa penuh semangat
"apa-apaan sih, seperti anak kecil saja", sembari sedikit menyubit pipi papa
kamipun tertawa lepas bersama-sama.
"permisi...!!!, ibu..!!! ayah...!!! aku pulang", kata mamaku lantang
terdengar suara gasak gusuk dari dalam rumah bergaya jepang kuno itu, suaranya seperti langkah kaki orang yang sedang berlomba lari
"sae..yaampun apa itu sae kecilku", kata orang itu
"ibu, aku kan sudah besar bu", gerutu manja ibuku
"ah, kau juga datang kaoru", iapun menjabat tangan papa
"sudah lama tidak bertemu ibu", sambut papa
"lihat siapa yang kalian ajak, wah kaito-kun kau sudah besar rupanya, kaiko-chan apa sehat ?", tanya nenek
"dia sudah bisa memanggilku ibu", katanya senang
"dia benar-benar mirip denganmu ya sae.... ah, siapa ini ?", tanya nenekku
"ibu dia, ... yang waktu itu kuceritakan di telepon", kata ibuku pelan
"meiko-chan bukan, tidak kusangka kau semanis ini. bagaimana apa kau merasa senang berada di keluarga ini ?", kata nenek lembut
"un..., aku senang", kata nee-san malu
"syukurlah, rukun-rukunlah dengan kedua adikmu", katanya sembari mengelus kepala nee-san
"iya nek"
"pergilah bermain-main di sekitar sini, namun jangan jauh-jauh ya", ujar mama
"IYA", kami berduapun berlari pergi mengeliligi seisi rumah
"nee-san, nee-san , cepat kemari ada yang ingin aku tunjukan", kataku sembari menarik lengan nee-san
"sabar kaito", iapun pasrah menerima ajakanku yang sedikit memaksa
"lihat ini", tunjuku pada sebuah pohon hijau besar yang berada tepat di belakang rumah ini
"ayo kita panjat", kataku semangat
"eh ?, apa boleh", heranya
"tentu saja aku sudah sering kok, diatas juga ada sarang burung yang kupelihara sejak kecil", ujarku
"baiklah, kau ini... benar-benar deh !", gerutu kakakku
kami berduapun mulai memanjati dahan pohon itu satu demi satu untuk mencapai puncaknya,
"gyaa !!!", teriakku karena terpeleset di dahan pohon
"KAITO KAU TAK APA !", panik nee-san
"aduh.. tidak apa-ap... ADUH", karena sergesek dahan puhon yang cukup kasar kakiku terluka
"KAITO.... MAMA, MAMA, KAITO TERLUKA", nee-san segera menolongku turun dari pohon itu
dari dalam rumah terlihat mama dengan paniknya berlari kearahku
"kau tidak apa-apa sayang, astaga cepat masuk dan bersihkan lukamu", terlihat dari raut wajah itu ia sangat mencemaskanku.
kamipun langsung berlari ke ruang tengah dan langsung mengobatiku
"tidak..."
"sudah mama bilang kan, hati-hati"
"maaf...."
"ah, meiko kalau tidak keberatan bisakah kau menjaga kaito sebentar ?, mama akan membeli antiseptik di toko obat", tanya mamaku
"un", iapun tidak bersuara lagi
mamapun beranjak pergi untuk membeli antiseptik
"nee-san, kau marah ya ?", kataku takut
"tidak"
"benar tidak marah"
"iya"
"sunguh ?"
"un"
"tapi kenapa nee-san tidak melihatku ?", kataku sedikit kecewa
sesaaat ruangan itu terasa sunyi, nee-sanpun membalikan badanya sambil menagis
"tentu aku marah bodoh, kalau terjadi sesuatu padamau bagaimana, kalau tangan atau kakimu patah bagaimana, ka...kalau ka..u kau mati bagaimana. kaito adalah adik laki-lakiku yang sangat berharga, adik laki-lakiku yang harus kulindungi bukan, a..aku tidak mau kalau hal yang sama terjadi padamu.. kalau sampai terjadi..aku...aku...", segera kuraih tangan nee-san untuk menenangkanya
"aku tidak akan kemana-mana nee-san", walau aku tidak terlalu mengerti apa yang aku bicarakan waktu itu, entah kenapa begitu saja tersirat di kepalaku.
melihat air mata nee-san mengalir entah kenapa membuat dadaku terasa sakit
"aku sudah janji bukan nee-san"
"ka..kaito... HUWE......MA..MAAFKAN AKU ....KAITO", nee-sanpun menagis meraung-raung dihadapanku, aku mulai berfikir kalu seperti ini, sebentar saja tidak apa kan ?
waktu terus begulir, tidak disangka sekarang aku sudah naik ke kelas 6, sedangkan nee-san lulus dan mendaftar ke smp terkemuka di luar kota
"apa kau yakin mau bersekolah disana, bukankah itu lumayan jauh ?", tanya mama khawatir
"tidak, aku dengar disana adalah sekolah musik yang bagus dan tidak terlalu mahal, aku ingin menjadi penyanyi seperti mendiang ibuku", katanya tersenyum
"ya, dia memang sangat berambisi menjadi penyanyi", kata ibuku sedikit sedih
"maaf, jadi membicarakan ibu", kata nee-san menggengam tangan mama
"kau sudah besar sekarang, mama sangat banga padamu meiko", mamapun memeluk nee-san dengan penuh rasa haru
"nah kaito, sekolahmu melewati stasiun bukan, antarlah meiko ke sana sebelum kau berangkat sekolah"
"iya, kalau itu juga aku tahu", kataku sedikit ketus
"baiklah ayo kita berangkat", meikopun mendorongku kearah ruang depan sembari melambaikan tanganya pada mama
"kami berangkat ya"
"hati-hati di jalan ", katanya dengan berseri-seri
kamipun berjalan menelusuri perumahan ini, tidak memerlukan waktu yang cukup lama untuk menuju stasiun. ya kira-kira sepertiga perjalananku ke sekolah
"ah... tiba juga saat seperti ini ya kaito", kata nee-san tersenyum ragu
"ya perpisahan itu hal normal kan", kataku dengan nada sok keren
"hehe sepertinya aku akan kesepian jika tidak ada kau kaito", katanya berusaha tertawa
ugh, sikap nee-san ini lah yang paling aku benci. dia selalu saja mendahulukan orang lain diatas segala-galanya ketimbang perasaanya, itu yang selalu membuatku khawatir
"kaito....", nee-san pun berhenti dan terdiam sejenak
" !!!, ada apa ? kau tidak apa-apa", cemasku
tangan nee-san mulai melingkar diantara pundakku, dia memeluku dengan begitu erat. membuatku semakin sulit untuk menyembunyikan perasaan yang telah kupendam sejak lama ini. diapun membisikan sesuatu di telingaku
"terima kasih untuk semuanya kaito, aku beruntung memilikimu. kau memang jimat keberuntunganku", bisiknya pelan dan dalam
dengan cepat wajahku memerah seketika bagaikan kepiting rebus, akupun langsung mendorong nee-san dengan segera
"apa-apaan sih kau ini !!! jangan perlakukan aku seperti anak kecil !", gerutuku padanya
"kaito seperti inilah yang aku sukai", iapun mengeluarkan senyum lembutnya itu
"si...sial", kataku dalam hati. kelakuan nee-san yang seperti inilah yang membuatku jatuh cinta berkali-kali padanya. memang tak dapat dipungkiri lagi, walau aku terus menyembunyikannya dia selalu saja mempunyai cara membuat hatiku berdebar-debar.
"yosh..! sudah sampai, terima kasih ya kaito. sampai jumpa", iapun berlari menuju stasiun dan pergi
akupun terdiam membatu di depan stasiun, tak terasa kami sudah sampai stasiun secepat ini. waktu benar-benar tidak adil, andai saja waktu bisa berhenti aku ingin terus bersamanya selama-lamanya.
"kenapa tanganku ini tidak membalas pelukanya", tanyaku dalam hati sembari menatap tangan hampaku. sial.

